Selamat Tahun Baru Hijriah.
Ketika dalam perjalanan menuju ke warnet (07.25), 1 Muharram 1429H, ada beberapa hal menarik yang ada di pikiran saya, dan juga yang saya temui sepanjang perjalanan.
Kalau tidak salah ada dua TPA dan sebuah Mushola dekat tempat tinggal saya (yang mungkin dari kemarin malam) sedang mengumandangkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Iya, hari ini adalah tahun baru Islam, dirayakan dengan cara yang ELEGAN, tidak neko-neko, bahkan salah satu TPA yang membaca Al-Qur'an adalah anak kecil (terdengar dari suaranya..) sungguh luar biasa.
Kemudian saya membandingkan dengan suasini (karena kalau suasana tempatnya jauh) tahun baru 2008 beberapa hari yang lalu, saya pusing dibuatnya..., hampir tidak bisa tidur dengan nyenyak.., lha wong suara petasan gak berhenti mulai jam 23.30 sampai jam 00.30. Berbarengan dengan suara petasan, juga terdengan suara anak kecil dan orang dewasa tertawa rame-rame, saya pikir, ini bapak dan anaknya kok kompak banget (maaf, tidak bermaksud nyindir siapa-siapa).
Satu bulan dengan dua tahun baru, pengalaman yang sangat menarik, dua sisi jaman yang (sebenarnya) gak perlu dipertentangkan, karena memang dunia seperti ini. Kita bisa berkata baik karena ada yang tidak baik. Begitu juga kita bisa mengetahui siang karena ada malam.
Apa sih yang sebenarnya kita inginkan ?? Masuk SURGA kan?? (WP)
10 January, 2008
08 January, 2008
Bedanya Save dan Save As di Microsoft Word 2003
Kalau dilihat dilihat dari fungsinya, Save dan Save As sama-sama untuk menyimpan. Lalu dimana letak bedanya ?? Coba kita lihat satu persatu ! Ketika kita baru pertam kali mengetik, artinya ketika kita mengetik, kita tidak membuka dokumen yang sudah ada, atau kita tidak melanjutkan ketikan kita yang belum selesai (yang kita buka dari my document / tempat dimana kita menyimpan file tersebut), dokumen yang kita ketik benar-benar baru dan belum diberi nama (biasanya dibagian kiri atas tertulis “Document1 – Microsoft Word”), maka jika kita telah selesai mengetiknya, perintah menyimpan Save dan Save As adalah sama saja, sama-sama untuk menyimpan, karena memang filenya belum pernah disimpan.
Save
Save digunakan untuk menyimpan file yang sudah pernah tersimpan dengan menggunakan nama file yang sama. Contohnya, misal kita punya file dengan nama file “data pribadi” dan kita ingin melanjutkan ketikan kita, maka kita membuka file tersebut kemudian melanjutkan mengetiknya. Jika kita merasa sudah menambahkan isi file tersebut kemudian ingin menyimpan file tersebut dengan nama file yang tetap / sama (yaitu data pribadi), maka kita tinggal tekan icon disket yang biasanya terletak dibawah menu edit, atau menggunakan menu File kemudian Save.
Isi file data pribadi tadi akan bertambah dengan yang baru saja kita ketik tadi. File yang sebelumnya isinya sudah bertambah dengan yang baru saja kita ketik. Dan kita hanya punya satu file.
Save As
Biasanya ini digunakan supaya file kita yang sebelumnya aman. Contoh yang digunakan sama, yaitu ingin menambahkan isi file yang kita inginkan, tapi kita tidak ingin file yang sebelumnya rusak (biasanya buat jaga-jaga). Setelah kita mengetik / menambah isi file yang dimaksud, kemudian kita menyimpannya dengan menggunakan langkah File -> Save As -> beri nama file dengan nama yang baru -> tekan tombol save di kanan bawah. Selanjutnya, cobalah buka file yang lama, isi filenya akan tetap dan tidak berubah, sedangkan jika kita membuka file dengan nama yang baru (disimpan pake Save As), kita akan menemui isi file bertambah. Kita akan punya dua file, yaitu : file yang pertama adalah file yang belum dilanjutkan / ditambah isinya, sedangkan file yang kedua adalah file dengan nama yang baru denga isinya adalah lanjutan dari file yang kita buka tadi.
Semoga kita tidak bertambah bingung, atau makin bingung???
(WP)
Save
Save digunakan untuk menyimpan file yang sudah pernah tersimpan dengan menggunakan nama file yang sama. Contohnya, misal kita punya file dengan nama file “data pribadi” dan kita ingin melanjutkan ketikan kita, maka kita membuka file tersebut kemudian melanjutkan mengetiknya. Jika kita merasa sudah menambahkan isi file tersebut kemudian ingin menyimpan file tersebut dengan nama file yang tetap / sama (yaitu data pribadi), maka kita tinggal tekan icon disket yang biasanya terletak dibawah menu edit, atau menggunakan menu File kemudian Save.
Isi file data pribadi tadi akan bertambah dengan yang baru saja kita ketik tadi. File yang sebelumnya isinya sudah bertambah dengan yang baru saja kita ketik. Dan kita hanya punya satu file.
Save As
Biasanya ini digunakan supaya file kita yang sebelumnya aman. Contoh yang digunakan sama, yaitu ingin menambahkan isi file yang kita inginkan, tapi kita tidak ingin file yang sebelumnya rusak (biasanya buat jaga-jaga). Setelah kita mengetik / menambah isi file yang dimaksud, kemudian kita menyimpannya dengan menggunakan langkah File -> Save As -> beri nama file dengan nama yang baru -> tekan tombol save di kanan bawah. Selanjutnya, cobalah buka file yang lama, isi filenya akan tetap dan tidak berubah, sedangkan jika kita membuka file dengan nama yang baru (disimpan pake Save As), kita akan menemui isi file bertambah. Kita akan punya dua file, yaitu : file yang pertama adalah file yang belum dilanjutkan / ditambah isinya, sedangkan file yang kedua adalah file dengan nama yang baru denga isinya adalah lanjutan dari file yang kita buka tadi.
Semoga kita tidak bertambah bingung, atau makin bingung???
(WP)
04 January, 2008
Astronom Indonesia Temukan Planet Termuda

PARIS, KAMIS - Tim peneliti Institut Max Planck, Jerman, yang dipimpin astronom asal Indonesia, Johny Setiawan, kembali menemukan planet asing (ekstrasolar) yang mengelilingi bintang mirip Matahari.
Planet yang diberi nama TW Hya b mengelilingi bintang TW Hydrae di konstelasi Hydra yang berjarak 180 tahun cahaya dari Bumi. TW Hya b termasuk jenis planet gas raksasa berukuran antara 5,5 kali hingga 13,1 kali ukuran Planet Jupiter.
Planet tersebut mengorbit bintang induknya pada jarak 600.000 kilometer atau hanya 0,04 unit astronomi (jarak rata-rata Bumi dan Matahari). Karenanya, hanya dibutuhkan waktu 3,56 hari untuk satu kali mengelilinginya.
Penemuan ini tidak hanya menambah daftar panjang penemuan planet di luar tata surya kita, namun juga memberikan informasi baru mengenai proses pembentukan planet-planet.
Para astronom pada umumnya sepakat bahwa planet terbentuk sebagai akumulasi materi di cakram debu dan gas sebagai sisa pembentukan bintang yang mirip Matahari. Namun, selama ini, masih diperdebatkan berapa lama sebuah planet dapat terbentuk.
Termuda
Hasil pengematan terhadap planet-planet ekstrasolar yang sudah ditemukan menunjukkan tak ada satu pun planet yang lebih muda dari 100 juta tahun. Namun, TW Hya b berusia sangat muda antara 8-10 juta tahun. Bandingkan dengan Bumi yang diperkirakan seumur tata surya sekitar 4,5 miliar tahun, sedangkan Matahari 100 juta tahun lebih tua.
Hal ini menunjukkan bahwa planet-planet dapat terbentuk dalam waktu 10 juta tahun, sebelum cakram dicerai-beraikan angin dan radiasi bintang. Simpulan tersebut dilaporkan para peneliti dalam jurnal Nature edisi terbaru, Kamis (3/1).
"Penemuan tersebut memperlihatkan bahwa apa yang selama ini kita sebut cakram protoplanet sesungguhnya protoplanet itu sendiri," ujar Johny Setiawan yang juga pernah menemukan planet-planet ektrasolar sebelumnya.
Banyak cakram protoplanet yang terdeteksi keberadaannya di sekitar bintang muda. Namun, sejauh ini, belum ada planet yang diketahui berumur semuda TW Hya b.(AFP/Space.com/WAH)
disadur dari : http://www.kompas.co.id/
Bom di Ponsel Anda
Ledakan baterai gadget kembali jadi gunjingan hangat. Jika tahun lalu baterai laptop yang bikin heboh, sekarang giliran baterai ponsel. Bagaimana sebuah baterai seukuran kotak korek api bisa meledak layaknya sebuah bom?
Sebagian besar gadget modern termasuk ponsel menggunakan baterai lithium ion. Dijuluki baterai lithium ion karena tenaga baterai ini berasal dari aliran ion-ion lithium (Li+) di dalam larutan elektrolit. Sewaktu baterai kita charge, ion lithium mengalir dari katoda (kutub positif) ke anoda (kutub negatif). Sebaliknya, ion lithium mengalir dari anoda ke katoda ketika baterai bekerja.
Elektrolit, anoda, dan katoda dikemas dalam sebuah kontainer bertekanan. Selapis separator memisahkan anoda dan katoda agar keduanya tidak saling bersinggungan. Separator itu terbuat dari plastik super tipis dengan lubang-lubang mikro yang hanya cukup dilewati ion lithium. Nah, masalahnya bermula ketika baterai diproduksi di pabrik. Ada kotoran berupa butir-butir logam yang masuk ke larutan elektrolit. Tidak banyak memang, tetapi bisa menyebabkan malapetaka. Cerita lengkapnya begini.
Pada saat charging, suhu baterai bertambah. Butiran logam akan berlarian kesana kesini, mirip dengan butiran beras dalam air yang diaduk. Jika berada di dekat separator, butir-butir logam itu bisa merobek separator. Alhasil, terjadilah hubungan pendek alias korsleting antara anoda dan katoda. Peristiwa selanjutnya mudah ditebak.
Korsleting membuat arus listrik mengalir sangat cepat. Suhu dan tekanan di dalam baterai akan meningkat drastis. Ledakan pun tak terhindarkan. Korsleting juga sanggup memercikkan bunga api layaknya pemantik. Kontan saja garam lithium yang memang mudah terbakar itu menyala hebat. Bayangkan saja, energi yang bisa membuat ponsel menyala berhari-hari itu lepas dalam sekejap.
Baterai lithium ion sekarang mesti bekerja lebih berat. Kapasitasnya dituntut makin besar, tapi ukurannya tidak boleh menggembung. Mau tak mau, pabrik baterai memakai separator yang lebih tipis dan lebih mudah bocor.
Beberapa pabrik baterai non-standar nekad menghilangkan pemutus arus demi menekan harga. Tanpa alat kecil itu, baterai tetap teraliri arus meski sudah terisi penuh. Terjadilah apa yang disebut overheat atau panas berlebih. Jika sudah begitu, baterai pun berpotensi meledak tiba-tiba. Booom.
-Eko Sujatmiko , penulis iptek-
http://www.beritanet.com/Piranti/Handphone/bom-di-ponsel-anda-eko.html
Ilustrasi :
Gambar 1. Jeroan baterai lithium ion. Lembaran anoda dan katoda digulung dengan selapis separator di tengah-tengah. Semuanya dimasukkan dalam wadah berisi elektrolit yang dilengkapi ventilasi serta cincin anti bocor.

Gambar 2. Reaksi kimia membuat ion-ion lithium (Li+) berpindah dari anoda ke katoda. Akibatnya elektron mengalir dari anoda dan katoda sebagai arus listrik. Sewaktu di-charge, ion-ion itu dipulangkan ke katoda dengan cara memberi tegangan listrik di katoda.

Sebagian besar gadget modern termasuk ponsel menggunakan baterai lithium ion. Dijuluki baterai lithium ion karena tenaga baterai ini berasal dari aliran ion-ion lithium (Li+) di dalam larutan elektrolit. Sewaktu baterai kita charge, ion lithium mengalir dari katoda (kutub positif) ke anoda (kutub negatif). Sebaliknya, ion lithium mengalir dari anoda ke katoda ketika baterai bekerja.
Elektrolit, anoda, dan katoda dikemas dalam sebuah kontainer bertekanan. Selapis separator memisahkan anoda dan katoda agar keduanya tidak saling bersinggungan. Separator itu terbuat dari plastik super tipis dengan lubang-lubang mikro yang hanya cukup dilewati ion lithium. Nah, masalahnya bermula ketika baterai diproduksi di pabrik. Ada kotoran berupa butir-butir logam yang masuk ke larutan elektrolit. Tidak banyak memang, tetapi bisa menyebabkan malapetaka. Cerita lengkapnya begini.
Pada saat charging, suhu baterai bertambah. Butiran logam akan berlarian kesana kesini, mirip dengan butiran beras dalam air yang diaduk. Jika berada di dekat separator, butir-butir logam itu bisa merobek separator. Alhasil, terjadilah hubungan pendek alias korsleting antara anoda dan katoda. Peristiwa selanjutnya mudah ditebak.
Korsleting membuat arus listrik mengalir sangat cepat. Suhu dan tekanan di dalam baterai akan meningkat drastis. Ledakan pun tak terhindarkan. Korsleting juga sanggup memercikkan bunga api layaknya pemantik. Kontan saja garam lithium yang memang mudah terbakar itu menyala hebat. Bayangkan saja, energi yang bisa membuat ponsel menyala berhari-hari itu lepas dalam sekejap.
Baterai lithium ion sekarang mesti bekerja lebih berat. Kapasitasnya dituntut makin besar, tapi ukurannya tidak boleh menggembung. Mau tak mau, pabrik baterai memakai separator yang lebih tipis dan lebih mudah bocor.
Beberapa pabrik baterai non-standar nekad menghilangkan pemutus arus demi menekan harga. Tanpa alat kecil itu, baterai tetap teraliri arus meski sudah terisi penuh. Terjadilah apa yang disebut overheat atau panas berlebih. Jika sudah begitu, baterai pun berpotensi meledak tiba-tiba. Booom.
-Eko Sujatmiko , penulis iptek-
http://www.beritanet.com/Piranti/Handphone/bom-di-ponsel-anda-eko.html
Ilustrasi :
Gambar 1. Jeroan baterai lithium ion. Lembaran anoda dan katoda digulung dengan selapis separator di tengah-tengah. Semuanya dimasukkan dalam wadah berisi elektrolit yang dilengkapi ventilasi serta cincin anti bocor.


Gambar 3. Butir-butir logam yang masuk ke elektolit saat baterai diproduksi bisa merobek separator, lalu membuat anoda dan katoda terhubung pendek (korsleting). Korslet juga terjadi jika butiran logam menumpuk di anoda atau katoda.


Subscribe to:
Posts (Atom)